Changpeng Zhao mengatakan bahwa saat ini jumlah jutawan di dunia lebih banyak daripada jumlah Bitcoin yang beredar. Pendiri Binance ini menilai satu koin penuh akan segera sulit dijangkau.
Pernyataannya muncul setelah seorang pembaca menyoroti bahwa hanya di Amerika Serikat saja sudah ada 23,6 juta jutawan. Bitcoin sendiri tidak akan pernah melampaui 21 juta koin.
Bitcoin Lebih Langka Dibanding Jumlah Jutawan Dunia
Pendiri Binance memberikan update soal suplai Bitcoin di X. Para miner sudah menghasilkan 20,07 juta koin sejauh ini. Artinya, hanya tersisa 4,4% suplai yang masih bisa ditambang.
Sisa 930.000 koin terakhir tadi juga tidak akan hadir dengan cepat. Halving akan memangkas hadiah blok setiap empat tahun, dan koin terakhir diperkirakan baru akan tercipta sekitar 2140. Ia menilai hal ini membuat Bitcoin jadi aset deflasi.
Analis Quinten François lalu membuat perbandingan. Amerika Serikat memiliki sekitar 23,6 juta jutawan menurut Laporan Kekayaan Global UBS 2026. Kalau secara global, totalnya mencapai 57,5 juta orang.
Angka jutawan ini hampir tiga kali lipat dari seluruh jumlah koin Bitcoin yang pernah ditambang. Jika dibagi rata, setiap jutawan cuma kebagian sekitar 0,35 BTC saja. Balasan terhadap catatan ini pun langsung singkat.
Soon, millionaires won't be able to afford 1 full Bitcoin. 🤷
— CZ 🔶 BNB (@cz_binance) August 15, 2026
Debat seputar batas maksimum ini semakin ramai di tahun ini. Pada Juli lalu, seorang ilmuwan pendiri Zcash pernah mengusulkan agar batas 21 juta Bitcoin dihapus dan diganti dengan penerbitan 4% per tahun. Sebagian besar komunitas Bitcoin tetap menolak ide perubahan semacam itu.
Mengapa Koin yang Hilang dan Tidak Aktif Membuat Jumlah Koin Beredar Semakin Sedikit
Jumlah suplai yang sudah ditambang tidak mencerminkan seberapa banyak koin yang benar-benar bisa dibeli. Miliarder aset kripto yang baru-baru ini menyatakan bahwa exchange lebih aman daripada self-custody ini menaksir 10% sampai 20% koin sudah hilang atau tidak bisa dipulihkan. Akibatnya, koin yang benar-benar bisa diperdagangkan kemungkinan hanya sekitar 17 juta saja.
Jumlah jutawan dibandingkan dengan jumlah Bitcoin yang ditambang dan masih dapat digunakan | Sumber: BeInCrypto
Di sisi lain, transaksi yang tidak hati-hati seringkali justru menyebabkan kerugian besar bagi pengguna. Seorang pengguna baru-baru ini membuang 1,6 BTC karena salah menentukan biaya Bitcoin dan pada akhirnya malah tidak mengirim apa pun.
Di samping itu, holder jangka panjang juga mengunci lebih banyak koin. Ia menekankan hal ini saat seorang pengikutnya menanyakan suplai yang benar-benar bisa digunakan.
Jika dilihat lebih detil, jumlah koin yang dapat diperdagangkan makin menipis. Sekitar 2,67 juta koin berada di exchange pada awal 2026, sementara lebih dari 14 juta sudah dikategorikan illiquid. Jika dibagi ke 57,5 juta jutawan di dunia, maka setiap orang hanya kebagian 0,046 BTC, atau setara sekitar US$2.925.
“Ya, banyak holder jangka panjang tidak memindahkan atau memakai koin mereka sama sekali. Tidak bisa membeli koin-koin itu.”
ujar Changpeng Zhao, pendiri Binance, di X
Harga Bitcoin sendiri menunjukkan cerita berbeda saat ini. Bitcoin ditransaksikan di kisaran US$63.030 setelah turun 46% dalam setahun terakhir, dan para analis masih debat apakah bear market saat ini sudah mencapai dasar.
Perbedaan ini penting untuk menghitung tingkat keterjangkauan. Pada rekor harga US$126.080 bulan Oktober 2025, satu koin bernilai sekitar 12,6% dari kekayaan tujuh digit. Sekarang, harganya sekitar 6,3% saja.
Artinya, sejauh ini belum ada jutawan yang benar-benar tidak mampu membeli satu koin pun. Peringatan ini menyoroti masa depan di mana permintaan setara dengan suplai yang tidak bisa bertambah, sementara para skeptis beralasan bahwa kepemilikan pecahan koin sudah cukup menjadi solusinya. Bahkan, saran dollar-cost averaging yang ia berikan memang mengarah ke situ—kepada pembeli yang rutin mengoleksi bagian kecil, bukan satu koin penuh.